Jyllands Posten Cartoonist Died…?

Berikut ini kutipan yang diambil dari situs The Nation News Paper

Danish Editor burnt alive

The editor of the Danish newspaper ‘Jyllands Posten’ was burnt to death
when a fire mysteriously broke out in his bedroom, a Saudi newspaper
claims.
According to the newspaper, the editor was sleeping in his
bedroom when the fire ravaged his bedroom. He and his newspaper became
controversial when it had published blasphemous caricatures of Prophet
Muhammad (PBUH).

The paper claims that the Danish govt is
trying to cover up the news of the death. He was hit by divine
retribution, the paper added. Muslims, all over the world, strongly
denounced this blasphemous act and massive protests were held in all
Muslim countries including Pakistan. Text messages and emails that
claim that the editor or the cartoonist has been burnt alive have also
been circulating since Tuesday, lending support to this report. The
paper named the editor as Elliot Back. However, Back is merely a senior
in Computer Science at Cornell University, who had published the
caricatures on his website. Name of the culture editor of Jyllands
Posten, who commissioned the caricatures, is Flemming Rose. Jens Julius
is the name of one of the cartoonists that drew the images. There were
12 cartoonists in all, who according to the BBC have gone into hiding.
– NEWS DESK

Dan ini yang versi Indonesianya dari OkeZone.com

Editor Koran Pemuat Kartun Nabi Mati Terbakar?

KOPENHAGEN - Editor surat kabar Denmark Jyllands Posten diberitakan tewas terbakar, ketika sebuah api secara misterius datang ke dalam kamarnya.

Kabar tersebut diungkap surat kabar Arab Saudi, dan kemudian dimuat di nation.com, situs berita yang berbasis di Pakistan.

Berdasar
surat kabar Saudi itu, si editor tengah tertidur di kamarnya ketika api
menyeruak ke dalam kamarnya. Si editor dan surat kabar tempatnya
bekerja menjadi kontroversi ketika mempublikasikan karikatur yang
menghina Nabi Muhammad.

Pesan teks dan surat elektronik yang
mengklaim editor itu telah terbakar sudah beredar sejak Selasa kemarin,
dan menguatkan kabar ini. Demikian dikutip dari nation.com, Jumat (18/4/2008).

Surat
kabar itu juga mengklaim pemerintah Denmark menutup-tutupi kabar
kematian si editor. Dia mendapatkan balasan atas perbuatannya, tambah
surat kabar itu. Si editor, menurut surat kabar tersebut, bernama
Elliot Back.

Akan tetapi Back hanyalah seorang ilmuwan komputer
senior di Universitas Cornell, yang telah mempublikasikan kartun itu di
situsnya.

Adapun nama editor di Jyllands Posten yang
bertanggung jawab atas kartun itu adalah Flemming Rose. Jens Julius
juga termasuk dalam kartunis yang menggambar kartun yang menghina itu.

Sejauh ini kabar tentang kematian Back belum dapat dikonfirmasi. Belum dapat dipastikan pula apakah kabar ini benar atau tidak. (jri)


Hmmm.. Bener ga yah berita ini…? Bisa saja emang bener mati karena
kebakar hidup2 alias terpanggang api (kaya sate madura…) atau cuman
upaya sang kartunis tersebut untuk menghilangkan jejak dari publik
untuk keselamatan nyawanya dan muncul kembali sebagai orang lain dengan
identitas baru atau operasi plastik (mirip aksi film FACE OFFFFF).
Menurut kamu gimana…?

Rekor Manusia Mini Dari Majenang

Jika disuruh memilih, Andi Romadona
(20) tentu ingin hidup normal seperti orang pada umumnya. Namun takdir
membuat ia berbeda dengan orang normal . Remaja kelahiran Majenang 30
April 1988 itu hanya memiliki tinggi 90 centimeter dengan berat 11,5
kg. Karena bentuk tubuhnya yang kecil itu, ia pun dijuluki sebagai
manusia mini dari Majenang.

Ukuran
mini putra dari Supardi (53) dan Srimiyati (47) warga Desa Mulyadadi
Kecamatan Majenang Cilacap itu memang sejak lahir. Padahal selama masa
kehamilan, kondisi janin normal. Lama masa kehamilan juga normal yakni
sembilan bulan. Namun tak disangka saat dilahirkan, berat badan Andi
hanya 9 ons dengan panjang 22 cm.

 

"Saat lahir kepalanya sebesar telur bebek, sedangkan jari-jarinya sebasar      batang korek api," ujar Srimiyati kepada Suara Merdeka, di kompleks      pasar Wonokriyo, Gombong, Jumat (14/3).

 

Pada
umur satu tahun, Andi sudah bisa berjalan. Pada saat itu, tubuh Andi
tidak menunjukkan perkembangan yang berarti. Tubuhnya masih kecil
sebesar botol minuman mineral. Saat usia sekolah dia juga sempat masuk
namun hanya bertahan sampai kenaikan ke kelas dua.

 

Kejadian
itu sudah 20 tahun berlalu. Namun bagi Srimiyati rasanya baru sebentar.
Andi tumbuh seperti anak-anak pada umumnya, meskipun dalam hal ukuran
bentuk tubuh andi tidak banyak bertambah banyak. Saat umur 20 ini ia
pun masih seperti balita.

 

Saat
membelikan baju anaknya di pasar, Srimiyati pun sering merasa
kebingungan. Ia tidak bisa menjawab saat ditanya pedagang mencari baju
untuk anak usia berapa. Sebab, meskipun usia anaknya sudah 20 tahun
namun baju yang pakai masih ukuran anak usia tiga tahun. Tidak hanya
itu, sepatu yang dikenakan adalah sepatu bayi.

 

Kendatipun
anaknya memiliki keterbatasan, tidak mengurangi rasa kasih sayang
Srimiyati kepada buah hatinya itu. Ia tidak membedakan kasih sayang
antara empat anaknya yang normal dengan Andi yang memiliki
keterbatasan. Seluruh keluarga termasuk saudara pun menyayangi Andi.

 

Srimiyati
yakin Tuhan mempunyai rencana tersendiri buat buah hatinya itu.
Termasuk bagaimana rejeki itu diperoleh orang sekecil anaknya. Sebab,
tidak memungkinkan anak dengan ukuran mini itu bekerja di pabrik
seperti orang normal.

 

Sampai
tahun 2001, ia diajak bergabung dengan grup yang memamerkan keanehan
keliling kota di Indonesia. Berawal dari sana ia bisa mendapatkan
pendapatan. Ya, justru dengan tubuh kecilnya itu, Andi mendapatkan
penghasilan. Tak kurang dari 50 kota di Indonesia telah ia singgahi.
Surabaya, Bali, dan Jakarta sudah menjadi langanan dia pentas.

 

"Ia pernah tampil pada acara "Alamak" (reality show di Indosiar,red) dan      "Unik" di RCTI," kata Srimiyati bangga.

 

Andi
bagi keluarganya adalah sesuatu kebanggan. Ia pun banyak berjasa bagi
keluarganya. Bagaimana tidak, dari hasil pentasnya, ia bisa membantu
menyekolahkan adik dan membangunkan bagi rumah orang tua di Majenang
senilai Rp 125 juta.

 

"Pendapatan selama pentas melebihi bapaknya yang bekerja di pabrik sepatu      Cilegon," ujar Srimiyati.

 

Dalam perbincangan itu, Andi yang berada di sisi ibunya hanya terdiam.      Kepada Suara Merdeka
ia justru memperlihatkan kebolehannya berakrobat, seperti mencambuk
tangannya sendiri dan main akrobat. Saat ditanya jawaban lebih
diberikan ibunya. Termasuk saat ditanya apakah diirinya mempunyai
keinginan berkeluarga, ia pun hanya tersenyum.

 

"Meski
kadang seperti anak kecil, dia juga tahu orang cantik. Saya yakin Tuhan
menyiapkan jodoh bagi anak saya," ujar Srimiyati.

 

Adapun
keberadaan Andi di Gombong adalah dalam rangka pentas spektakuler gelar
tontonan langka. Bersama rombongan ia pentas di Pasar Wonokriyo sejak
1-16 Maret.

Untuk info dan gambar selengkapnya, silahkan kunjungi Suara Merdeka.