Historis Avian Influenza

Historis Avian Influenza

By SMUNSA Cadavers

Avian influenza (avian flu, bird flu, bird influenza) atau di Indonesia lebih dikenal dengan nama flu burung adalah penyakit yang mengenai unggas yang disebabkan oleh virus influenza. Sebenarnya virus avian influenza ini tidak dapat menular ke spesies lain selain burung dan babi. Namun, sifat virus yang labil dan mudah bermutasi menyebabkan virus ini dapat menginfeksi spesies lain. Virus avian influenza merupakan salah satu virus influenza tipe A. Diketahui bahwa ada 3 tipe virus influenza yakni virus influenza tipe A, B, dan C, tapi hanya virus influenza tipe A sajalah yang dapat menyebabkan terjadinya wabah dan pandemi. Salah satu pandemi influenza yang pernah terjadi dan mungkin pandemi paling menakutkan dalam sejarah adalah pandemi 1918- 1919. Pada saat itu, sekitar 400 juta orang terinfeksi di seluruh dunia dan sekitar 20- 50 juta orang meninggal dunia akibat pandemi 1918 yang disebabkan virus influenza strain H1N1.  selain itu, pandemi influenza yang terjadi tahun 1957- 1958 dan 1968- 1969 juga menelan korban yang tidak sedikit.

Ketakutan akan munculnya kembali pandemi influenza terus bergejolak dan semakin nyata setelah diketahuinya strain virus influenza baru, H5N1, pada tahun 1997 yang mempunyai patogenisitas yang tinggi. Para ilmuwan yakin strain virus H5N1 tersebut berpotensi besar akan menimbulkan pandemi influenza selanjutnya mengingat strain virus tersebut yang memenuhi kriteria menyebabkan terjadinya pandemi. Bahkan pada bulan Maret 2004, Badan Kesehatan Dunia, WHO (World Health Organization) mengingatkan bahwa pandemi influenza tak dapat dielakan. Pada Februari 2005, WHO juga mengingatkan kembali akan datangnya pandemi avian influenza yang semakin dekat dan diperkirakan 7- 100 juta orang meninggal dunia. Akankah pandemi influenza benar- benar akan terjadi dan semakin dekat kita ke arah tersebut?. Seberapa hebat pandemi influenza seandainya benar- benar terjadi dan apa yang sudah kita siapkan untuk menghadapi kemungkinan terburuk terjadinya pandemi selanjutnya?. Untuk itu, sangatlah penting mengenal kembali sejarah penyakit flu burung dan vrus penyeabnya pada masa silam sebagai pedoman kita untuk melangkah selanjutnya.

Sejak pertama kali ditemukan kasus baru flu burung pada manusia di Hongkong pada tahun 1997, berbagai kalangan di dunia selalu menyoroti akan kasus tersebut, termasuk di dalamnya media massa yang ikut menyebarkan berbagai informasi kasus flu burung ke seluruh pelosok dunia. Ibarat artis, flu burung langsung menjadi buah bibir dan sorotan masyarakat dunia internasional, popularitasnya semakin naik melonjak bagai roket menggebrak artis- artis kelas dunia, menyejajarkan dengan mereka sejak pertam kali muncul. Flu burung menjadi salah satu penyakit papan atas dari deretan penyakit paling mematikan dan menakutkan di dunia. Hingga kini flu burung masih menjadi momok yang menakutkan, termasuk bagi kita bangsa Indonesia. Data terakhir menyebutkan, sepanjang 2006 jumlah pasien di Indonesia mencatat angka terbesar di seluruh dunia. Sekitar 50 % pasien flu burung ada di Indonesia, sisanya tersebar di 10 negara. Menurut data Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, sepanjang Juni 2005 hingga 14 Februari 2007 tercatat ada sembilan propinsi yang terdapat kasus konfirmasi flu burung. Propinsi Jawa Barat adalah propinsi yang terbanyak ditemukan kasus flu burung, disusul berurutan oleh Propinsi DKI Jakarta, Banten, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Sumatera Barat, dan Sulawesi Selatan. Total kasus konfirmasi kasus flu burung pada manusia di Indonesia sebanyak 84 kasus, dan 64 diantaranya meninggal dunia (14 Februari 2007). (Lihat selengkapmnya……)

Bejo says

From: Bejo - 21 Februari 2007/

gENEng pADA AMlENG2 baEN gIE cAH mADJENAng!!!!!

Rina says

From: rina - 9 Februari 2007/ 21 Muharram 1428 H

bGs bGt ni iDe nya,,

taPi,,sapa sih d balik artikel koran ini..?

hmphzZZzz..ko ga maU meNampakkan dRi c,,?

loWpROfiLe ni cRtanya,,

Bejo says

From: Bejo - 7 Februari 2007/ 19 Muharram 1428 H

S M U N Z A    J A Y A

Bejo says

From: Bejo - 4 Februari 2007/ 16 Muharram 1428 H

Pada Ngeneh Nek Bocah Majenang N Lu2sane SMUNZA!!!!!

Woro2 Wong Majenang - Jogja

WOro2 Wong Majenang - Jogja

NGgo bocah2 majenang sing nang Jogja ngesuk tgl 23/25 februari arep ana diskusi bocah2 majenang plus pembicara dari Hizbut Tahrir IndonesiA (HTI), KAMMI Jogja, dll. Nek kurang jelas hubungi Mr Sagap ISI, ketuane HPM.

For more information:
CP : 081931710563 (Sagap)
       08122596849 (Bangkit)

Erlonitib, Obat Bukan Kemoterapi untuk Kanker Paru

Erlonitib, Obat Bukan Kemoterapi untuk Kanker Paru

By SMUNSA Cadavers

Baru- baru ini telah diluncurkan obat bukan kemoterapi bagi penderita
kanker paru di Indonesia. Obat dengan nama generik Erlonitib ini tersedia dalam
bentuk tablet untuk terapi oral yang dapat menghambat perkembangan sel kanker
dengan efek samping yang minimal. Obat yang diluncurkan pada tanggal 10
Februari 2007 di Jakarta yang bertepatan dengan Pertemuan Ilmiah Pulmonologi
dan Kedokteran Respirasi ke- 5 bisa menjadi alternatif terapi jika pasien tidak
bersedia dikemoterapi. Mengingat efek samping kemoterapi juga berdampak buruk
bagi pasien.

Pada kemoterapi tidak hanya menyebabkan kematian pada sel kanker saja tapi
sel tubuh yang sehat pun menjadi sasaran kemoterapi. Ini dikarenakan kemoterapi
tidak memilik target tertentu sehingga sel tubuh yang muda pun kena, termasuk
eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih) dan sel- sel pada
rambut yang berdampak pada kerontokan rambut. Dampak kemoterapi ini tentu saja
tidak disukai baik oleh pasien maupun kalangan medis sendiri. Selain itu,
kemoterapi juga sering menimbulkan rasa mual, muntah, dan dapat membahayakan
jiwa pasien. Oleh karena itulah terapi kemoterapi sangat beresiko bagi
kesehatan.

Berbeda dengan Erlonitib. Erlonitib bukanlah kemterapi. Obat ini merupakan
obat lini kedua jika kemoterapi tidak memberikan hasil yang memuaskan. Obat ini
juga bisa menjadi alternatif seandainya pasien menolak kemoterapi. Namun,
pasien harus diberi informasi yang lengkap tentang pengobatan dengan Erlonitib
ini. Respon rate kemoterapi yang biasanya diberikan dalam bentuk
kombinasi dua obat berkisar 30 % sedangkan respon rate Erlonitib
sekitar 15- 18 %. Hasil penelitian menunjukan Erlonitib yang diberikan satu
kali sehari mampu memperpanjang hidup pasien kanker paru jenis non small
cell lung cancer
(kanker paru bukan sel kecil). Jenis kanker ini merupakan
80 % kasus kanker yang ada. Selain itu, Erlonitib mampu meningkatkan kualitas
hidup pasien dengan menghilangkan gejala yang menyertai kanker paru seperti
sesak nafas dan batuk. Erlonitib juga mampu mengurangi efek samping seperti
mual, muntah dan tidak menyebabkan rambut rontok serta efek lain yang
membahayakan jiwa.

Cara kerja Erlonitib juga berbeda dengan kemoterapi. Erlonitib bekerja
sesuai dengan target pada reseptor yang ada pada sel kanker. Semetara sel tubuh lain seperti
sel eritrosit, leukosit, dan sel- sel pada rambut tidak menjadi sasaran obat
ini karena sel- sel tersebut tidak mempunyai reseptor sehingga dapat mengurangi
kerusakan sel tubuh yang sehat. Erlonitib juga mampu menghambat pertumbuhan sel
tumor dan dapat digunakan pada pasien yang dirawat intensif. Erlonitib mungkin
bisa menjadi salah satu penemuan pentng dalam pengobatan kanker khususnya
kanker paru.

Sehebat apapun obat pasti ada kerugian/ efek samping yang ditimbulkannya.
Demikian halnya dengan Erlonitib pasti mempunyai efek samping dan kerugian.
Efek samping yang ditimbulkan Erlonitib memang lebih ringan dibandingkan
kemoterapi, seperti: mual muntah ringan, jerawatan, timbul rash atau
bercak- bercak merah pada kulit, gatal- gatal dan kadang diare. Obat ini juga
tergolong masih sangat mahal, sekitar Rp 700.000 per tablet dan harus
dikonsumsi sekali sehari dalam jangka panjang. Bagi sebagian besar masyarakat
Indonesia tentu sulit menjangkau harga obat yang sedemikian tingginya. Selain
itu tidak semua penderita kanker paru cocok diberikan obat ini. Yang cocok
adalah pasien yang tidak merokok. Sementara pada pasien yang merokok atau
memiliki riwayat merokok hasilnya kurang bagus. Bersyukurlah bagi Anda yang
belum atau tidak merokok. Seandainya suatu saat terkena kanker paru masih bisa
memberikan hasil dengan terapi obat Erlonitib. Ini tentunya nilai lebih bagi
orang yang tidak merokok. Namun, bagaimanapun juga kita semua mengharapkan
keadaan yang sehat- sehat saja tanpa kanker. Mudah- mudahan dengan hadirnya
obat kanker paru dengan efek minimal ini dapat menigkatkan taraf hidup pasien
kanker paru di Indonesia.

Sumber: Kompas, 12 Februari 2007. 

Forum Anak2 Majenang

Untuk meningkatkan ukhuwah sesama sedulur Cah2 Majenang di manapun berada di seluruh duia dalam dunia maya, Insya Allah akan segera dibuat sebuah forum buat ngumpul Cah2 Majenang. Diharapkan forum ini dapat menjadi sarana untuk saling interaksi sesama Cah2 Majenang.

Saat ini forum sedang dalam proses pembuatan. Terimakasih.

Salam

Bravo Majenang

user

<!–

// Start hit counter code for
var data = ‘&r=’ + escape(document.referrer)
+ ‘&n=’ + escape(navigator.userAgent)
+ ‘&p=’ + escape(navigator.userAgent)
+ ‘&g=’ + escape(document.location.href);

if (navigator.userAgent.substring(0,1)>’3′)
data = data + ‘&sd=’ + screen.colorDepth
+ ‘&sw=’ + escape(screen.width+’x'+screen.hei

Ayu says

From: Ayu - 31 Januari 2007/ 12 Muharram 1428 H

KuLoNUWuN mas lan mbak sedoyo,,,

welah ndak nyangka sebelumnya ada yang memperkasai nie tempat di FS. klo boleh tw nyang di belakangg layar capa yah?? jadi penasaran, wakakak,,,
matur tengkyu sanget wonten wadah ingkang saget nampung poro alumni sedoyo ( waduh blepotan nie klo uda ngomong jawa alus, heheee ).

pokoknya keep smile aja de, moga ada tali yang bisa mempererat hubungan para alumni (emang tarik tambang ya pake tali, heheeee).

monggo

nuwun

-siwi agust-